Wednesday, January 22, 2020

Jatiluwih Rice Terrace Bali #Part 2, Ekowisata Warisan Budaya Dunia UNESCO

Tanda Jatiluwih Rice Terrace Bali

Jatiluwih Rice Terrace yang merupakan Warisan budaya dunia UNESCO. Sebuah kearifan local atas sistem irigasi Subak yang sudah digunakan sejak abad 11 hingga saat ini. Sebuah sistem organisasi irigasi yang menerapkan keselarasan dan keharmonisan manusia dengan Tuhan, alam dan sesama manusia. Ekowisata warisan budaya dunia UNESCO ini terletak di desa Jatiluwih, Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Area persawahan seluas 350 hektar ini dikelola baik dengan tetap melestarikan alam sekitarnya dan memberikan pembelajaran tentang pentingnya kelestarian alam.

Lanjutan Jatiluwih Rice Terrace (Part 1), Ekowisata Warisan Budaya Dunia UNESCO

Memasuki area Jatiluwih Rice Terrace

Setelah kita sampai di post Jatiluwih Tourist Information, kita akan diberikan informasi terkait track atau jalan yang akan kita telusuri. Area persawahan yang mempunyai luas hampir 400 hektar ini bisa dikelilingi dengan waktu sekitar 4 jam. Namun kita juga tidak akan punya tenaga jalan kaki menyusuri area persawahan selama 4 jam. Untuk itu dibuatkan beberapa jalur / track untuk dapat dipilih wisatawan sesuai kondisi.

Dimana jalur / track terdiri atas 5 Track yang ditandai dengan warna yaitu:

  • Red Line:            Short Track 1,5 km, Duration: 45 Minutes – 1 Hour, Activity: Tracking
  • Purple Line:       Medium Track 2 km, Duration: 1 – 1,5 Hours, Activity: Tracking
  • Yellow Line:       Medium Track 2,3 km, Duration: 1 – 1,5 Hours, Activity: Tracking
  • Blue Line:           Long Track 3,1 km, Duration: 1,5 – 2 Hours, Activity: Tracking
  • White Line:        Extra Track 5,5 km, Duration: 3,5 – 4 Hour, Activity: Cycling or Tracking

Jalur ini bisa dibaca pada brosur yang tersedia di Jatiluwih Tourist Information atau papan informasi di jalur penelusuran.


Peta panduan menyusuri Jatiluwih Rice Terrace Bali
Peta panduan


Kita dapat menelusuri area Jatiluwih ini dengan menggunakan sepeda, dimana ada tempat menyewakan sepeda beserta pemandu.


area masuk Jatiluwih Rice Terrace Bali
Area masuk Jatiluwih Rice Terrace Bali


Pada area masuk Jatiluwih Rice Terrace, yang berlatar belakang Gunung Batu Karu, juga terdapat papan  petunjuk. Papan petunjuk bagi wisatawan untuk mengetahui area tempat fasilitas wisata di Ekowisata Jatiluwih Rice Terrace.


Sistem dan stuktur organisasi Irigasi Subak di Jatiluwih Rice Terrrace dan Bali pada umumnya

Struktur organisasi Subak mempunyai angota yang dinamakan Krama Subak, yaitu petani yang mempunyai sawah garapan dan mendapat bagian air bagi sawahnya. Krama Subak sendiri terdiri dari 3 golongan yaitu: Krama Aktif, Krama Pasif dan Krama Luput. Dalam anggota Krama Subak terdapat beberapa kelompok yang disebut Sekaa.

Seperti halnya sebuah organisasi, Subak mempunyai struktur yang terdiri dari:

  • Pekaseh/Kelian bertugas sebagai kepala subak.
  • Pangliman/Petajuh bertugas sebagai wakil kepala subak.
  • Penyarikan/Juru tulis sebagai sekretaris.
  • Petengen/Juru raksa sebagai bendahara.
  • Saya/juru arah/juru uduh/juru tibak/kasinoman bertugas dalam urusan pengumuman.
  • Pemangku bertugas khusus dalam urusan keagamaan.

Kelompok (Sekaa) di dalam subak dibagi menjadi:

  • Sekaa Numbeg, kelompok yang mengatur hal pengolahan tanah.
  • Sekaa Jelinjingan, kelompok yang bertugas untuk mengatur pengolahan air.
  • Sekaa Sambang, kelompok yg memiliki tugas dalam hal pengawasan air dari pencurian, penangkap atau penghalau binatang perusak tanaman seperti burung maupun tikus.
  • Sekaa Memulih/Nandur, kelompok yang bertugas dalam hal penanaman bibit padi.
  • Sekaa Mejukut,  kelompok yang bertugas menyiangi padi.
  • Sekaa Manyi, kelompok yang bertugas menuai/memotong/mengetam padi.
  • Sekaa Bleseng, kelompok yang memiliki tugas mengangkut ikatan padi yang telah diketam dari sawah ke lumbung.


Pembagian air dilakukan adil dan merata, segala masalah dibicarakan dan dipecahkan bersama, termasuk penetapan waktu menanam dan penentuan jenis padi. Kegiatan dalam organisasi Subak tidak hanya meliputi masalah pertanian atau bercocok tanam, tetapi juga meliputi masalah ritual dan peribadatan. Untuk itulah setiap Subak memiliki Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul yang dibangun untuk peribadatan bagi Dewi Sri.

Organisasi Subak menetapkan peraturan yang disebut awig awig, sima, perarem. Dalam peraturan awig awig tersebut dimuat hal-hal dan ketentuan pokok. Ketentuan pokok dalam awig awig adalah mengatur mengenai hal parahyangan, pawongan dan pelemahan. Ketentuan dan hal yang lebih detail dimuat di dalam pararem sebagai pelaksanaan awig awig subak. Awig awig subak juga memuat hak dan kewajiban dari warga subak serta sanksi atas pelanggaran tersebut.


Jaringan irigasi Subak di Jatiluwih dan Bali pada umumnya.

Fasilitas yang utama dari irigasi subak (palemahan) berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan (satu tempat/alat untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan). Jika diurut dari sumber air, jaringan sistem Subak terdiri dari:

  • Empelan/empangan sebagai sumber aliran air/bendungan.
  • Bungas/Buka adalah sebagai pemasukan (intake).
  • Aungan adalah saluran air yang tertutup atau terowongan.
  • Telabah aya (gede), adalah saluran utama.
  • Tembuku aya (gede), adalah bangunan untuk pembagian air utama.
  • Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca), adalah sebagai saluran air cabang.
  • Telabah cerik, sebagai saluran air ranting.
  • Telabah panyacah (tali kunda), dibeberapa tempat dikenal dengan istilah Penasan (untuk 10 bagian), Panca (untuk 5 orang), dan Pamijian (untuk sendiri/1 orang).

Di Jatiluwih sendiri memiliki 7 Subak untuk +/- 395 anggota dan mengairi sekitar +/- 350 hektar lahan persawahan.


Menelusuri Jatiluwih Rice Terrace salah satu Warisan Budaya Dunia UNESCO

Ekowisata Jatiluwih Rice Terrace memberikan edukasi kepada wisatawan tentang betapa pentingnya pemanfaatan alam dengan menjaga kelestariannya. Tanaman padi yang ditanam di area persawahan dengan sistem Subak masih sangat tradisional. Lahan persawahan ditanami padi tanpa pestisida dan pupuk buatan. Masa tanam padi di Jatiluwih Rice Terrace:

  • Bulan Januari: Masa tanam padi untuk beras merah.
  • Bulan Agustus: Masa tanam padi untuk beras putih.

Untuk itu apabila kita ingin melihat padi menghijau, menguning atau masa panen, kita sesuaikan waktu berkunjung ke Jatiluwih. Seperti saatnya tulisan ini dibuat bulan Januari 2019 sedang masa tanam padi untuk beras merah. 


Masa tanam padi di Jatiluwih Rice Terrace Bali
Masa tanam padi beras merah di Jatiluwih Rice Terrace Bali


Padi tumbuh di Jatiluwih Rice Terrace Bali
Masa tanam padi


Beberapa wisatawan menikmati berkunjung ke Jatiluwih Rice Terrace dengan merasakan suasana persawahan. Sepanjang jalur yang kita lalui terdapat beberapa warung kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. Selain itu warung – warung tersebut juga menjual hasil panen dengan kemasan kecil dan topi caping. Pada center point di persimpangan jalur biru dan putih terdapat panggung kecil berbentuk bundar dekat pos pusat informasi. Disitu kita bisa berdiri menikmati hamparan luas persawahan.


Area persawahan Jatiluwih Rice Terrace Bali
Area sawah di Jatiluwih Rice Terrace Bali


Menikmati Jatiluwih Rice Terrace Bali
Menikmati suasana persawahan Jatiluwih Rice Terrace Bali


Sebagai Ekowisata, jatiluwih Rice Terrace juga menyediakan fasilitas penunjang (dapat dilihat dipeta brosur) seperti Toilet, Camping Ground dan Ampitheater untuk pertunjukan seni dan budaya. Pertunjukan berupa Musik Mewah (Mepet Sawah) dan Seni budaya seperti: Joget Bumbung, Tari Topeng, Wayang, Sekaa Santhi dan Sekaa Angklung.
 

Jatiluwih yang merupakan salah satu dari 4 situs Bali yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Memberikan banyak pelajaran dan pemahaman bagi kita betapa sebuah kearifan local menjaga kelestarian alam. Mengelola dan memanfaatkan alam dengan bijak untuk tetap menjaga kelestarian alam itu sendiri. Apabila kita menjaga alam maka alam akan juga menjaga kita.

No comments:

Post a Comment