Sejarah mencuci tangan dalam pelayanan kesehatan dan sebagai pola hidup bersih dan sehat

Sejarah mencuci tangan sebagai sebuah kebiasaan hidup bersih dan sehat begitu banyak perjuangan dari pencetusnya. Yang pada akhirnya menjadi kampanye global atas perilaku hidup bersih dan sehat ke penjuru dunia. Kebiasaan mencuci tangan ini terbukti mampu mengurangi resiko terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, kuman maupun virus. Kalau kita runtut kebelakang, kebiasaan mencuci tangan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dalam kebiasaan menjalankan agama dan budaya. Kebiasaan mencuci tangan ini sebagai ukuran kebersihan badan pada masa itu, masih belum disadari hubungannya dengan kesehatan. Terutama terhadap penyebaran penyakit.

Sejarah mencuci tangan
Rumah Sakit pada masa PD 1 tahun 1908 (Foto: Mediadrumimages)

Sejarah mencuci tangan mencatat sosok – sosok pencetusnya

Tercatat dalam sejarah mencuci tangan, dimana pada beberapa dekade yang lalu, beberapa orang praktisi kesehatan mengamati dan meneliti bahwa mencuci tangan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Dimana pada masa itu para praktisi kesehatan masih belum menyadari akan penyebaran penyakit melalui tangan yang belum dicuci dengan benar. Berikut ini beberapa pencetus mencuci tangan pada masa – masa dimana ilmu kedokteran dan perawatan kesehatan belum semodern sekarang ini:

Ignaz Philipp Semmelweis (1 Juli 1818-13 Agustus 1865) dalam sejarah mencuci tangan Sang pencetus yang meninggal dengan tragis


Ignaz Philipp Semmelweis
Ignaz Phillipp Semmelweis (Foto: Semmelweis Society International)

Terlahir di Hongaria sebagai keturunan Jerman, Ignaz Philipp Semmelweis adalah seorang dokter kandungan. Banyak kalangan menjulukinya sebagai Bapak Mencuci Tangan dan pelopor prosedur antiseptik. Dr Ignaz Semmelweis bekerja di salah satu klinik dari dua klinik bersalin di Rumah Sakit Umum Wina di Austria sebagai asisten professor. Pada tahun 1847 dia mengamati bahwa tingkat angka kematian Ibu melahirkan yang disebabkan oleh demam Nifas berbeda antara 2 klinik di Rumah sakit Umum Wina. Dimana Penyebab kematian ibu – ibu melahirkan diklinik yang dijalankan oleh mahasiswa kedokteran dan dokter lebih tinggi dibanding dengan klinik bersalin yang dikelola bidan. Dengan perbandingan yang cukup tajam 17% berbanding 3%. Hasil pengamatan ini yang membuat dr. ignaz melakukan penelitian untuk mencari penyebab perbedaan.

Dia menemukan banyak mahasiswa kedokteran atau dokter setelah melakukan otopsi di kamar mayat langsung pergi ke bangsal bersalin. Dari sini dia menemukan jawaban sementara bahwa kemungkinan “partikel mayat” yang ada ditangan dokter setelah melakukan otopsi terbawa ke bangsal bersalin. Partikel mayat ini yang dicurigai sebagai penyebab demam nifas dibangsal bersalin. Sedangkan para bidan yang mengelola klinik bersalin satunya, lebih bersih dari pertikel mayat karena tidak melakukan otopsi.

Hasil penelitian ini membuat dr. Ignaz merekomendasikan ke para dokter untuk mencuci tangan mereka dengan klorin setelah melakukan otopsi dan sebelum ke bangsal bersalin. Dan hasilnya cukup memuaskan, setelah menerapkan hal tersebut angka kematian karena demam nifas dibangsal bersalin menurun dari 17% ke 3 %. Karena hal ini dr. Ignaz mendapat julukan sebagai penyelamat ibu – ibu.

Namun berbanding terbalik dengan koleganya dokternya, yang menentang dan dan mengejeknya. Meraka menganggap bahwa secara tidak langsung penelitian tersebut menyudutkan para dokter menjadi penyebab atas kematian diklinik bersalin. Pada akhirnya dia kehilangan pekerjaannya, para kolega dokternya menganggapnya tidak waras dan istrinya pun juga menganggap demikian. Seperti dilansir Semmelweis Society International, akhirnya dia memutuskan pindah ke Budapest dan pada tahun 1865 ke sebuah institusi mental.  Dr. ignaz meninggal di sana 14 hari kemudian pada usianya 47 tahun, konon dia meninggal setelah dipukuli oleh para penjaga institusi tersebut.

Florence Nightingale (12 Mei 1820 – 13 Agustus 1910) Sang penggiat mencuci tangan yang berjuluk Bidadari berlampu tercatat dalam sejarah mencuci tangan


Florence nightngale
Florence Nightngale (foto: Wikipedia)

Seorang perawat yang dikenal sebagai pelopor perawat modern, yang mencetuskan mencuci tangan sebagai praktek kebersihan disebuah rumah sakit perang. Terlahir di Florence, Italia dari seorang ayah yang kaya dan ibu keturunan ningrat, sejak masa kecil hingga remaja terbiasa tinggal disebuah rumah mewah. Namun Florence Nightingale sebagai remaja lebih sering keluar dari rumahnya untuk membantu orang disekitarnya yang membutuhkan.

Kecintaanya pada dunia keperawatan dimulai pada tahun 1846 ketika Florence berkunjung sebuah rumah sakit modern di Kaiserswerth, Jerman. Rumah sakit yang dikelola oleh biarawati Lutheran membuat Florence Nightingale tersentuh hatinya atas tindakan kepedulian terhadap pasien. kekagumannya itu dia bawa pulang ke Inggris, yang membuat dirinya bertekad untuk mengabdi di dunia keperawatan.

Pertentangan dari keluarganya terutama ibunya, tidak menyurutkan niatnya menjadi perawat. Stigma yang negatif pada perawat, pada masa itu, menjadi alasan keluarganya menentang keras. Dimana pada masa itu rumah sakit adalah tempat paling kotor dan perawat merupakan pekerjaan rendah. Florence berusaha menyakinkan dengan menceritakan bagaimana perawat yang juga seorang biarawati di Jerman merupakan tindakan mulia.

Pada tahun 1951 Florence Nightingale pergi ke Kaiserswerth, Jerman untuk mengikuti pelatihan perawat, meski tetap ditentang oleh ibu dan kakaknya. Kemudian dia sempat juga bekerja di sebuah rumah sakit untuk orang – orang miskin di Perancis. Pada masa itu orang lebih banyak memanggil dokter ke rumah dan dirawat dirumah, terutama untuk kalangan kaya dan ningrat. Kemudian ditahun 1953 Florence  Nightingale kembali ke London, Inggris dan bekerja di rumah sakit kecil sebagai pengawas keperawatan.

Peperangan terjadi di semenanjung Krimea pada tahun 1854, tentara Inggris dan Perancis menghadapi tentara Rusia. Pada saat itu harian Time menuliskan bahwa banyak prajurit yang gugur dipertempuran, namun lebih banyak yang meninggal karena tidak adanya perawatan. Tulisan ini membuat Florence Nightingale merasa terpanggil. Dia mendaftarkan diri sebagai sukarelawan dan dia satu2nya sukarelawan wanita. Dia menyanggupi untuk mencari, melatih dan memimpin gadis sukarelawan. Segera setelah itu Florence Nightingale bersama 38 gadis sukarelawan termasuk bibinya sendiri berangkat ke Semenanjung Krimea. Florence Nightingale melakukan perubahan penting sehingga para prajurit mendapatkan perawatan.

Namun kerja keras Florence Nightingale tidak berpengaruh terhadap jumlah kematian yang semakin meningkat. Kemudian pada saat dinas kesehatan Inggris datang untuk memperbaiki pembuangan limbah dan ventilasi udara, angka kematian menjadi menurun. Sekembalinya ke Inggris untuk pengumpulan bukti di Komisi Kerajaan untuk Kesehatan Tentara Inggris, Florence Nightingale tersadarkan bahwa angka kematian disebabkan praktek yang tidak bersih dan kondisi rumah sakit yang kotor. Hal ini membuat Florence Nightingale berjuang mengkampanyekan praktek kebersihan seperti mencuci tangan dan kebersihan lingkungan untuk perawatan kesehatan. 

Sepeti dilansir di Wikipedia, terdapat sepenggal kisah selama Florence Nightingale berada di medan pertempuran Krimea. Pada setiap malam hari Florence Nightingale dengan membawa lentera, dia memaksa seorang tentara inggris untuk mengantarkan ke bekas medan pertempuran. Dibekas medan pertempuran dia mencari prajurit yang terluka dan masih hidup, tidak peduli itu pihak kawan atau pihak lawan. Semua prajurit terluka dan masih hidup dia bawa kerumah sakit pada malam itu juga. Tindakannya itu membuat banyak nyawa prajurit tertolong dengan cepat tanpa menunggu pagi hari. Sehingga dia dijuluki sebagai Bidadari Berlampu yang menolong di gelap gulita.

Oliver Wendell Holmes Sr. (29 Agustus 1809 – 7 Oktober 1894) Tercatat dalam sejarah mencuci tangan bahwa Sang pencetus juga seorang penyair

Oliver Wendel Holmes
Oliver Wendell Holmes Sr. (foto: Wikipedia)

Salah satu dokter yang dikenal sebagai ahli anatomi yang lahir di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, yang juga dikenal sebagai seorang penyair. Ayah dari Oliver Wendell Holmes Jr yang merupakan salah satu hakim di Mahkamah Agung di Amerika Serikat. Pernah mengenyam pendidikan hukum setelah lulus dari Harvard College pada tahun 1829. Kemudian beralih ke kedokteran dengan melanjutkan pendidikan sebuah perguruan tinggi kota. Pada masa itu pendidikan kedokteran hanya mempelajari 5 mata kuliah yaitu Anatomi, bedah, kebidanan, kimia dan medica material.

Oliver Wendell Holmes melanjutkan studi kedoterannya di Paris Perancis pada tahun 1833. Dimana usia yang sangat muda, dia menjadi orang dari Amerika yang dilatih dengan metode klinis terbaru pada masa itu. Metode tersebut dikembangkan oleh École de Médecine yang sangat terkenal. Sekembalinya ke Boston, dia melanjutkan pendidikan dan pelatihan di Harvard Medical School. Pada akhirnya dia mendapat gelar Doctor of Medicine pada tahun 1836, dengan disertasi tentang perikarditis akut.

Pada tahun 1842 Oliver Wendell Holmes melakukan penelitian penyebab signifikan kematian ibu setalah melahirkan dan pencegahannya. Dia lakukan penelitian setelah menghadiri ceramah Walter Channing tentang demam nifas. Setahun kemudia dia mengenalkan penelitiannya sebagai makalah dengan judul “The Contagiousness of Puerperal Fever” (Penyakit Menular Demam Nifas). Dalam kesimpulannya, Oliver Wendell Holmes menyampaikan bahwa dokter mempunyai kewajiban untuk memurnikan alat dan pakaian setelah melakukan tindakan otopsi pasien yang terinfeksi.



Perkembangan dan penerapan dalam perawatan kesehatan agar tidak hanya menjadi sejarah mencuci tangan

Praktek kebersihan tangan dengan mencuci tangan yang sudah digagas pada era tahun 1840-an ini masih belum dijalankan secara luas. Hingga gagasan ini terhenti hampir 1 dekade tanpa ada yang mengadopsinya sebagai pedoman perawatan kesehatan.

Pada era tahun 1980-an, sebagai tonggak awal penerapan konsep kebersihan tangan dalam perawatan kesehatan, dengan diterbitkannya sebuah pedoman. Pedoman kebersihan tangan nasional diterapkan secara nasional di AS dan diikuti beberapa Negara lain hingga beberapa tahun kemudian. Kemudian Komite Penasihat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Hospital Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) di AS merekomendasikan penggunaan sabun antiseptic dalam praktek mencuci tangan setelah meninggalkan kamar pasien.

Seperti dilansir dari WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care, pada tahun 2002 HICPAC mengeluarkan pedoman baru. Yang menjelaskan bahwa hand rubbing dengan basis alkohol sebagai standar perawatan untuk praktik kebersihan tangan dalam perawatan kesehatan. Sedangkan mencuci tangan dicadangkan untuk situasi tertentu saja. Sejauh ini penerapan mencuci tangan sebagai kebersihan mengalami kemajuan dan peningkatan yang cukup tinggi untuk pelayanan kesehatan.

Dari sejarah mencuci tangan menjadi Kampanye global kebiasaan mencuci tangan sebagai pola hidup bersih dan sehat

Diinisiatif oleh sebuah badan amal Prince and Princess of Wales Hospice (PPWH), PublicPrivate Partnership for Handwashing dan didukung Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) untuk melakukan kampanye global mencuci tangan dengan sabun. Kampanye ini mempunyai tujuan menurunkan tingkat kematian balita dan pembangunan fasilitas sanitasi disekolah. Pada pertemuan tahunan Air Sedunia di Stockholm tanggal 17 – 23 Oktober 2008 dicanangkan Hari Mencuci Tangan Sedunia dengan Sabun pada tanggal 15 Oktober. Pencanangan ini mempunyai harapan dapat memperbaiki praktek - praktek kesehatan dan perilaku hidup sehat dan bersih.

Baca:

Tidak ketinggalan Kementerian Kesehatan mencanangkan juga mencanangkan Pola HidupBersih dan Sehat (PHBS) sebagai program kesehatan masayarakat jangka panjang. Terdapat 5 tatanan dan  indikator dari setiap tatanannya sebagai Pola Hidup Bersih dan sehat. Salah satu indikator adalah mencuci tangan dengan sabun.

Sejarah mencuci tangan dalam Pola hidup bersih dan sehat oleh kemenkes
Pola Hidup Bersih dan Sehat (foto: Promkes Kemenkes)

Apabila kita mengetahui sejarah mencuci tangan butuh perjuangan untuk meyakinkan banyak kalangan betapa pentinya mencuci tangan. Saat ini pun masih membutuhkan waktu yang panjang dan perjuangan yang besar untuk menyakinkan dan menyadarkan banyak orang akan pentingnya mencuci tangan. Kesadaran diri sendiri akan mencuci tangan membuat kualitas hidup kita lebih bersih dan sehat. Dan semoga banyak orang tergerak dengan kesadaran sendiri dan kitapun juga bisa melakukannya. Sudahkah kita menyadari mencuci tangan membuat kita lebih sehat?

No comments:

Post a Comment