Sunday, August 30, 2020

Bahaya plastik bagi lingkungan hidup dan dampaknya bagi kesehatan

Bahaya plastik bagi lingkungan hidup dan kesehatan perlu menjadi perhatian kita semua. Tidak dipungkiri sejak plastik menjadi pilihan bahan termurah yang digunakan untuk bahan pengganti kertas dalam kemasan maupun tas kertas. Berawal dari sebuah kepedulian atas penggunaan kertas yang berdampak pada penebangan hutan yang meluas. Justru saat ini menimbulkan dampak yang jauh lebih luas terhadap lingkungan hidup dan bahkan pada kesehatan manusia.


Bahaya plastik bagi lingkungan hidup


Ancaman Bahaya plastik bagi lingkungan hidup sudah didepan mata

Kemajuan teknologi modern dan cara hidup membuat kita harus menghadapi peningkatan beban polusi plastik. Ditemukan banyak sekali sumber plastik di lingkungan yang berbahaya bagi lingkungan hidup, termasuk limbah industri, rumah tangga dan pertanian. Dimulai dari partikel karena keausan bahan plastik, debu, limbah dan sampah plastik yang dibuang dengan sengaja. Selain tidak enak dipandang, juga memberikan konsekuensi yang negatif bagi lingkungan hidup dan kesehatan. Plastik sudah menyebar di tanah, sungai, danau dan lautan.

Plastik baik berupa serpihan, puing maupun bentuk utuhnya sudah ditemukan di bagian dalam samudera, kedalaman 11,2 km di palung Mariana Pasific Barat. Pada tahun 2010 antara 4 – 12 juta ton plastik dibuang ke laut, dan jumlahnya meningkat drastis tiap tahunnya. Sebuah penelitian memperkirakan sekitar 5 triliun keping puing plastik dengan berat 269.000 ton ada di laut. Ini baru serpihan plastik saja.

Plastik lapuk menjadi potongan mikro dan nano yang berukuran kecil. Karena plastik tidak dapat terurai aman menyatu dengan alam,  berbeda dengan bahan kayu. Benda besar berbahan plastik juga telah ditemukan dalam pencernaan spesies laut seperti paus. Penelitian menunjukan kemungkinan bahwa dalam tubuh manusia juga terdapat mikro plastik, karena partikel ini ditemukan di sejumlah ikan dan kerang yang dijual umum dan debu jalan di pusat kota di seluruh dunia. Sebuah penelitian yang tidak dipublikasikan baru – baru ini menemukan mikro plastik dalam kotoran manusia.


Bahaya plastik bagi lingkungan dan kesehatan bisa bermula dari butiran plastik

Agar kita memahami bahayanya plastik bagi lingkungan hidup dan kesehatan, setidaknya kita pahami penyebab utamanya. Dimana plastik yang terdegradasi menjadi mikro dan nano, dapat menembus jauh dalam organisme dan mengkontaminasi zat kimia tambahan.  Hingga saat ini belum ada definisi mikro plastik internasional. Namun secara umum didefinisikan sebagai berikut:

  • Makro plastik didefinisikan sebagai barang plastik lebih besar dari 5 mm (mili meter).
  • Mikro plastik dikenal sebagai polimer organik sintetis kurang dari < 5 mm (mili meter), mikro plastik terdeteksi dalam lingkungan hingga ukuran 1 μm (mikron meter).
  • Nano plastik umumnya didefinisikan sebagai plastik yang berukuran 1 – 100 nm (nano meter).

Sebagai gambaran bahwa 1 mm (mili meter) = 1.000 μm (mikron meter) dan  1 μm (mikron meter) = 1000 nm (nano meter), Jadi kita bisa bayangkan betapa kecilnya butiran plastik ini. Dan plastik baru bisa benar - benar terurai menyatu dengan alam membutuhkan waktu hingga 100 tahun, beberapa bahkan lebih dari itu. Plastik primer merupakan hasil produksi yang berbentuk makro, mikro dan nano plastik. Sedangkan plastik sekunder baik itu Makro, mikro maupun nano plastik merupakan hasil degradasi dari plastik primer. Plastik primer maupun sekunder sama- sama mempunyai ancaman bahaya yang sama bagi lingkungan hidup dan kesehatan, karena sama – sama masih mengandung zat kimia.


Bahaya plastik bagi lingkungan hidup berupa Makro plastik

Makro plastik yang terbuang ke lingkungan, banyak berupa produk konsumen asli. Dimana 75% makro plastik yang terbuang terdiri dari jenis kemasan makanan dan minuman. Seperti makro plastik berupa pembungkus makanan minuman, tutup botol, sedotan, pengaduk, peralatan, wadah, gelas dan piring. Semuanya merupakan plastik sekali pakai dengan berbagai kategori / jenis plastik yang sudah dikategorikan. Sisanya terdiri dari macam –macam produk seperti tas, balon, popok dan tampon.

Untuk itulah kita mulai dari diri sendiri dengan mengurangi sampah plastik sekali pakai. Karena banyaknya sampah plastik sekali pakai yang terbuang dan mengkontaminasi lingkungan hidup. Jelas pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan kita sendiri.


Bahaya plastik bagi lingkungan hidup berupa Mikro plastik

Mikro plastik yang terbuang / berada di lingkungan terdiri dari mikro plastik primer dan sekunder. Industri banyak memproduksi mikro plastik sebagai bahan dasar atau plastik pra produksi beberapa barang produksi akhir. Mikro plastik primer yang diproduksi berupa bentuk bubuk plastik dan pelet (ukuran <5mm). Mikro plastik primer ini juga bisa saja terbuang secara sengaja atau tidak sengaja dalam proses produksi, transportasi sampai penyimpanan. Di beberapa Negara seperti Amerika, Kanada, Selandia Baru, Australia, Inggris, Selandia Baru, Taiwan, Italia sudah melarang mikro plastik dalam produk perawatan pribadi. Karena Produk perawatan pribadi yang diuji mengandung mikro plastik antara 0,05% - 12%. Mikro plastik primer juga digunakan dalam aplikasi industri, termasuk cairan yang digunakan dalam pengeboran minyak dan gas. Juga sebagai abrasif untuk menghilangkan cat dari lambung kapal, dan pada mesin pembersih dan permukaan logam.

Mikro plastik sekunder adalah hasil degradasi dari jenis produk makro plastik yang ditemukan mencemari lingkungan. Berdasarkan studi International Union for Conservation of Nature baru-baru ini ditemukan bahwa serat tekstil sintetis dan partikel dari abrasi ban mobil salah satunya.


Bahaya plastik bagi lingkungan hidup berupa Nano plastik

Sama halnya dengan Makro dan Mikro plastik, Nano plastik pun terdiri dari nano plastik primer dan nano plastik sekunder. Dimana pada saat ini Nano plastik primer banyak digunakan dalam produk – produk seperti cat, bahan perekat, elektronik dan dalam pencetakan 3D. Ini semua yang menjadi produk utama atau primer yang masuk dan mencemari lingkungan hidup. Tidak berbeda jauh, Nano plastik sekunder merupakan hasil degradasi dari mikro plastik, yang tetap berkelanjutan dan belum berhenti.


Bahaya plastik dalam lingkungan hidup melalui rantai makanan

Mikro plastik tahan cukup lama  terhadap degradasi. Sebuah eksperimen laboratorium seperti dilansir oleh sebuah laporan tahunan dari badan organisasi non-profit Center for International EnviromentalLaw (CIEL) menyebutkan bahwa mikro dan nano plastik tertransfer dari mangsa ke dalam predator dengan membawa pencemaran dari plastik melewati rantai makanan.

Suatu studi menyatakan bahwa nano plastik melakukan perjalanan melalui rantai makanan dari alga ke ikan sampai predator puncak. Dimana manusia terkena mikro plastik dari beragam sumber makanan yang terkontaminasi mikro dan nano plastik. Sebagian besar penelitian berfokus pada makanan laut, dan diperlukan lebih banyak penelitian tentang kontaminasi rantai makanan di laut dan darat.


Paparan bahaya plastik melalui rantai makanan
Paparan bahaya plastik melalui rantai makanan source by: CIEL


Bahaya plastik pada Ikan dan kerang

Plastik telah ditemukan mengapung di lautan dan sedimen, termasuk di bagian terdalam samudera. Lebih dari 690 spesies laut, dari zooplankton mikroskopis hingga mamalia laut yang luas, telah terbukti menelan mikro plastik. Mikro plastik juga telah ditemukan pada banyak spesies yang dijual untuk konsumsi.

Pada manusia, sebagian besar konsumsi mikro plastik dari makanan laut kemungkinan berasal dari spesies yang dimakan secara keseluruhan, seperti kerang, tiram, udang, kepiting, dan beberapa ikan kecil. Mikro plastik telah ditemukan di saluran pencernaan banyak spesies komersial, seperti mackerel Atlantik (Scombrus scombrus), herring (Clupea harengus), dan plak (Pleuronectes plastessa). Bukti menunjukkan bahwa plastik mikro dapat berpindah dari saluran pencernaan ke hati dalam spesies seperti ikan teri Eropa (Engraulis encrasicolus). Namun masih diperlukan lebih banyak penelitian tentang bagaimana mikro plastik dapat memberikan pengaruh racun kimia.


Bahaya plastik pada rumput laut

Penelitian sebuah laboratorium laboratorium terhadap kemungkinan manusia dapat terkena mikro plastik dengan memakan rumput laut. Penelitian ini menemukan bahwa paparan tinggi mikro plastik dapat menempel pada permukaan spesies rumput laut yang dapat dimakan, salah satunya Fucus vesiculosus. Namun, pencucian mengurangi jumlah partikel mikro plastik sebesar 94,5%.


Bahaya plastik pada Garam

Partikel-partikel mikro plastik telah ditemukan dalam beberapa garam meja yang dijual bebas, yang berasal dari laut, danau, dan garam batu. Sampel garam batu dan garam laut ditemukan mengandung mikro plastik, yang menunjukkan bahwa terdapat kontaminasi plastik tingkat tinggi di lingkungan laut dan darat. Garam kemasan dan produk makanan lainnya yang dikemas dalam plastik dapat terkontaminasi dengan plastik selama proses produksi dan pengemasan.


Peran serta kita dalam meminimalkan bahaya plastik bagi lingkungan hidup dan kesehatan

Semua berkesinambungan antara lingkungan hidup dengan diri kita, apabila lingkungan kotor dan tercemar, akan berpengaruh besar pada kesehatan kita. Begitu juga dengan bahaya plastik terhadap lingkungan hidup yang berdampak pada kesehatan. Meskipun perlu penelitian yang lebih banyak lagi untuk menunjukan seberapa besar pengaruh kontaminasi plastik pada kesehatan kita. Dan tentunya dengan akumulasi atau penumpukan yang terjadi sekian lama.

Meskipun saat ini memang belum banyak solusi yang bisa menggantikan plastik sebagai bahan produksi yang murah. Tapi setidaknya kita bisa meminimalkan atas penggunaan, terutama penggunaan plastik sekali pakai. Plastik sekali pakai pasti akan kita buang menjadi sampah, tanpa kita tahu apakah plastik sekali pakai tersebut akan ada yang mendaur ulang atau hanya menjadi sampah. Tapi sekali lagi kita bisa mengurangi sampah plastik dimulai dari diri kita sendiri. Terutama menghindari pemakaian plastik sekali pakai.

No comments:

Post a Comment